Bujangan

Begini nasib jadi bujangan
Ke mana mana asalkan suka
Tiada orang yang melarang

Hati senang walaupun tak punya uang
Hati senang walaupun tak punya uang

Apa susahnya hidup bujangan
Setiap hari hanya bernyanyi
Tak pernah hatinya bersedih
– Bujangan, Koes Plus.
Salah satu lagu pertama yang saya hapalkan dalam hidup saya selain tembang Dhandanggula.

Tak terasa sudah sekitar satu bulan ini saya dan teman-teman menempati rumah kontrakan di daerah Sawitsari, Sleman. Di rumah yang terbilang cukup nyaman ini, kami berdelapan, ditambah beberapa teman yang sering datang menginap, menghabiskan waktu untuk bercengkerama, menyibukkan diri, ataupun sekedar mengistirahatkan badan kami.

But everything has it’s consequence, namanya juga delapan anak muda yang sudah akrab sejak dulu di-klumpukne menjadi satu, hasilnya adalah crowd yang luar biasa, terlebih beberapa orang penghuni kontrakan kami (tepatnya empat) memiliki tingkat kebisingan yang luar biyasaaaaaaa, termasuk saya sendiri. Akumulasi tingkat kebisingan kami jauh melebihi rumah-rumah lain di sekitar rumah kami, boleh dikroscek! 😀 Hasil dari keramaian yang luar biasa itu adalah sedikit tersendatnya urusan akademis kami, tapi buat saya tak apalah asalkan kami semua bisa belajar hidup sosial dengan baik dan bertanggung-jawab. Toh kami juga sudah dewasa, masing-masing sudah mafhum dengan pilihan hidupnya masing-masing. Semoga masing-masing dari kami bisa meraih impiannya.

Yah begitulah, seringkali saya terpikir “Oh, begini ini toh rasanya jadi bujangan? Jan koyo lagune Koes Plus!” 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s