Bukan Tentang Siapa Kita, Tapi..

Sekitar beberapa hari yang lalu ketika sedang asyik bermain pesbuk, saya ketemu dengan sebuah artikel yang menurut saya sangatlah inspiratif dan unik di profil milik seorang kakak tingkat (jauh, beliau Kasmaji angkatan 60-an) SMA saya, Bapak Masyhudi. Saya sendiri juga kurang tahu apakah artikel tersebut original atau tidak, yang jelas artikel tersebut buat saya sangat menarik. 🙂

Ternyata APA dan SIAPA kita … tidak penting…!!!

APA DAN SIAPA KITA …..

Waktu itu saya dalam perjalanan dari Jogya ke Jakarta naik pesawat. Karena keberangkatan pesawat ditunda 1 jam saya menunggu di kafetaria bandara Adisucipto sekedar minum kopi. Didepan saya duduk seorang ibu sudah agak tua, memakai pakaian Jawa tradisional kain batik dan kebaya, wajahnya tampak tenang dan keibuan. Sekedar mengisi waktu, saya mengajaknya bercakap-cakap.

Badhe tindak Jakarta, Bu?

“Inggih nak, namung transit ing Cengkareng lajeng dhateng Singapura.”

“Menawi kepareng nyuwun pirsa, kagungan perlu menapa ibu tindak Singapura..?”

“Tuwi anak kula ingkang nomer kalih Nak. Semahipun nglairaken wonten ngrika lajeng kula dipun kintuni tiket lan dipun urusaken paspor langkung Biro Perjalanan. Dados kula kantun pangkat, boten sisah repot ngurus menapa-menapa”.

“Ingkang putra ngasta wonten pundi Bu?”

“Anak kula menika Insinyur Perminyakan, nyambut damel wonten Perusahaan Minyak Asing, samenika dados Kepala Kantor Cabang Singapura.”

“Putra sedaya pinten, Bu.?”

“Anak kula sekawan Nak, jaler tiga, estri setunggal. Menika wau anak kula nomer kalih. Ingkang nomer tiga ugi jaler, Dosen Fakultas Ekonomi UGM, samenika saweg mendhet Program Doktor wonten Amerika. Ingkang ragil estri, dados dokter spesialis Anak, semahipun ugi dokter Ahli Bedah lan dosen wonten Fakultas Kedokteran Airlangga Surabaya.”

“Menawi putra mbajeng.?”

“Piyambakipun tani, Nak. Manggen ing Godean nggarap sabin tilaranipun swargi bapakipun“.

Saya tertegun sejenak lalu dengan hati-hati saya bertanya,

“Temtunipun Ibu kuciwa kaliyan putra mbajeng nggih Bu. Kok boten sarjana kados rayi-rayinipun.”

“Babarpisan boten, Nak. Kita sedaya malah ngurmati piyambakipun. Kanthi kasil saking sabinipun, piyambakipun ngragadi gesang kita sakulawarga lan nyekolahaken rayi-rayinipun sedaya ngantos rampung sarjana”.

Saya merenung. Ternyata yang penting bukan Apa atau Siapa kita, tetapi apa yang telah kita perbuat. Allah tidak akan menilai apa dan siapa kita tetapi apa amal-ibadah kita. Tanpa terasa air mata mengalir di pipiku…

Karena teks percakapan di atas menggunakan bahasa Jawa, berikut terjemahan dalam bahasa Indonesia artikel di atas, monggo 😀

Ternyata APA dan SIAPA kita … tidak penting…!!!

APA DAN SIAPA KITA …..

Waktu itu saya dalam perjalanan dari Jogya ke Jakarta naik pesawat. Karena keberangkatan pesawat ditunda 1 jam saya menunggu di kafetaria bandara Adisucipto sekedar minum kopi. Didepan saya duduk seorang ibu sudah agak tua, memakai pakaian Jawa tradisional kain batik dan kebaya, wajahnya tampak tenang dan keibuan. Sekedar mengisi waktu, saya mengajaknya bercakap-cakap.

Mau pergi ke Jakarta ya, Bu?

“Iya Nak, cuma transit di Cengkareng lalu langsung menuju Singapura.”

“Kalau boleh tahu, ada perlu apa Ibu pergi ke Singapura..?”

“Bertemu anak saya yang kedua Nak. Istrinya melahirkan di sana lalu saya dibelikan tiket dan diuruskan paspor melalui Biro Perjalanan. Jadi saya tinggal berangkat, nggak perlu repot ngurus apa-apa”.

“Putranya bekerja di mana, Bu?”

“Anak saya Insinyur Perminyakan, bekerja di Perusahaan Minyak Asing, sekarang jadi Kepala Kantor Cabang di Singapura.”

“Putra Ibu semuanya ada berapa, Bu.?”

“Anak saya empat Nak, laki-laki tiga, satu wanita. Yang tadi itu anak saya nomor dua. Yang nomor tiga juga laki-laki, Dosen Fakultas Ekonomi UGM, sekarang sedang mengambil Program Doktor di Amerika. Yang paling kecil perempuan, jadi Dokter spesialis Anak, suaminya juga dokter Ahli Bedah dan dosen di Fakultas Kedokteran Airlangga Surabaya.”

“Lalu putra yang paling tua?”

“Beliau petani, Nak. Tinggal di Godean menggarap sawah peninggalan Almarhum Bapaknya.“.

Saya tertegun sejenak lalu dengan hati-hati saya bertanya,

“Tentu Ibu kecewa dengan putra sulungnya ya Bu. Kok bukan sarjana seperti adik-adiknya.”

“Sekalipun tidak, Nak. Kami semua malah sangat menghormatinya. Dari hasil sawahnya, Beliau menghidupi kami sekeluarga dan menyekolahkan adik-adiknya semua hingga jadi sarjana.”.

Saya merenung. Ternyata yang penting bukan Apa atau Siapa kita, tetapi apa yang telah kita perbuat. Allah tidak akan menilai apa dan siapa kita tetapi apa amal-ibadah kita. Tanpa terasa air mata mengalir di pipiku…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s