Pelajaran dari Mas Bambang Ekalaya

Pernah dengar mengenai tokoh wayang Mahabharata bernama Bambang Ekalaya? Atau seseorang yang sama dengan nama Prabu Palgunadi? Tokoh satu ini memang bukan seorang tokoh wayang yang ngetop di telinga orang banyak, namun coba ketik namanya di search engine goog*e, niscaya cukup banyak judul artikel yang mencantumkan namanya atau bahkan membahas mengenai penokohannya. Dan, mayoritas artikel tersebut bukanlah artikel asal-asalan. Monggo mang dicek rumiyin 🙂

Okelah, pertama-tama kita akan membahas siapa dan bagaimana sih kisah hidup seorang Bambang Ekalaya. Bambang Ekalaya (selanjutnya menjadi Prabu Palgunadi) ini adalah seorang Raja di Negeri Nisada. Ini dia penampakannya:

Bambang Ekalaya (sumber: pitoyo.com)

Banyak hal yang bisa kita pelajari dari cerminan diri Bambang Ekalaya. Ia adalah sosok pejuang yang pantah menyerah, tak pernah lelah mengejar mimpinya, dan tangguh dalam menghadapi cobaan.

Alkisah ketika muda, Bambang Ekalaya ini tumbuh menjadi seorang yang rupawan dan atletis. Ia yang ngebet ingin mempelajari ilmu dan seni dalam berperang ini pun mendengar kabar tentang seorang Resi tersohor bernama Drona, ia pun bertekad untuk belajar di bawah arahan sang guru idaman. Namun apa lacur, Bambang ditolak oleh Drona karena sang Resi telah dikontrak oleh Pandhawa-Kurawa secara eksklusif di Padepokan Sokalima. Lalu selanjutnya? Bukannya menyerah dan mencari guru lain, malah dia membuat patung Resi Drona dan belajar seolah-olah Ia tengah dibimbing oleh seorang Resi Drona yang asli!

Pada suatu ketika, Arjuna tengah melakukan “tes panel” kemampuan memanahnya di sebuah hutan. Murid kesayangan Drona tersebut membidik seekor binatang yang jauhnya mungkin lima sampai sepuluh kali lapangan sepakbola, setelahnya anak panah pun melesat kencang dan menancap tepat di jantung sang binatang, namun alangkah terkejutnya Arjuna ketika ia menyadari adanya anak panah lainnya yang juga menancap tepat di jantung binatang malang tersebut. Arjuna pun segera mencari sosok yang melepaskan panah tersebut dan dia menemukan sesosok ksatria yang berperawakan nyaris serupa (dan sesempurna) dirinya, namun dengan pakaian yang jauh lebih lusuh, bukti kerasnya kemauan sang ksatria untuk mempelajari ilmu peperangan secara otodidak.

“Hei kisanak, siapakah engkau dan siapa gerangan guru yang mengajarimu ilmu memanah?” Tanya Arjuna dengan raut muka ketus, melihat sesosok ksatria lain yang ia rasa memiliki kepandaian seimbang dengannya.

Bambang Ekalaya pun dengan penuh hormat menjawab, “Hamba adalah Bambang Ekalaya, bergelar Prabu Palgunadi dari kerajaan Nisada, sebuah kerajaan kecil. Hamba adalah murid Resi Drona. Mohon maaf apabila Hamba telah mengganggu sasaran panah anda, Tuan.”

Mendengar jawaban tersebut, Arjuna yang merasa bahwa Resi Drona tidak memiliki murid selain Pandhawa dan Kurawa pun sontak terkejut dan naik pitam dan menghunus kerisnya, “Jangan main-main, aku adalah Arjuna, murid asli Resi Drona. Tak akan kubiarkan engkau menghina guruku.”

Bambang Ekalaya yang tak punya pilihan lain pun meladeni kemarahan Arjuna. Terjadilah duel dahsyat antara keduanya selama berhari-hari. Adu keris, adu panah, hingga adu jotos tangan kosong mereka lakukan untuk menentukan siapa yang lebih unggul. Ya, menentukan kesaktian mana yang lebih unggul di antara kedua Ksatria gagah nan rupawan tersebut.

Singkat cerita pada sebuah momen, Arjuna yang lengah terkena sabetan tangan Ekalaya hingga tersungkur di tanah. Merasa tidak percaya dengan apa yang telah diperbuat Ekalaya kepadanya, Ia pun ‘melarikan diri’ ke Sokalima untuk meminta pertanggungjawaban gurunya. Arjuna merasa direndahkan oleh Resi Drona karena secara diam-diam ternyata sang guru memiliki murid ‘privat’ yang kesaktiannya setara, atau bahkan melebihi dirinya. Ia merasa sangat terhina karena sepengetahuannya, selama ini dirinyalah yang selalu dipuja oleh Resi Drona, dibanjiri dengan pujian oleh Drona, dibuai olehnya bahwa ia adalah murid terbaik dari yang terbaik yang pernah Drona latih.

Sesampai di Sokalima, ia segera mengadukan permasalahannya kepada Drona. Mendengar cerita dari Arjuna, Drona yang kebingungan pun merasa merinding mengetahui bahwa ada seorang ksatria misterius yang sanggup mengalahkan Arjuna, dan dia mengaku sebagai muridnya!

Drona pun mengajak Arjuna untuk menenangkan dirinya dan menemui Bambang Ekalaya sekali lagi di tempat yang sama. Di tkp, mereka berhasil bertemu dengan Ekalaya yang tengah nongkrong di sebuah gubuk. Kali ini ia tak sendirian, ia ditemani permaisurinya yang cantik jelita, Putri Anggraeni.

Melihat kedatangan Arjuna dan guru dambaannya, Ekalaya pun segera berlari meninggalkan istrinya di gubuk untuk menghampiri mereka dan memberi penghormatan di depan Resi Drona, “Selamat datang Baginda Guru, hamba tidak menyangka kalau Baginda Guru akan datang kemari. Mohon maaf sebesar-besarnya untuk apa yang telah hamba lakukan dengan Tuan Arjuna kemarin.”

Arjuna pun merasa panas dan terhina dengan kalimat yang dilontarkan Ekalaya, ia mengepalkan tinjunya seolah siap untuk kembali berduel dengan Ekalaya. Drona yang merasa tidak enak dengan Arjuna segera mencoba meluruskan permasalahan, “Nak, aku ingat dengan dirimu, aku ingat bahwa aku pernah menolak untuk menjadi gurumu. Tapi maaf, engkau sama sekali tidak berhak untuk mengaku sebagai muridku, bukankah engkau memiliki gurumu sendiri?”

Mendengar jawaban tersebut, Bambang Ekalaya pun merasa bersalah dan menjawab lirih dengan menahan air matanya. “Hamba mohon ampun Baginda Guru, tapi hamba benar-benar ingin menjadi murid Baginda Guru. Selama ini hamba tidak mempunyai guru, hamba hanya belajar sendirian dengan ditemani sebuah patung Baginda Guru, patung seorang guru impian hamba.”, ucap Ekalaya sembari menunjuk sebuah patung yang berdiri di dalam gubuk, di sebelah istri cantiknya.

Alangkah takjubnya Drona mendengar dan melihat jawaban Ekalaya tersebut, dalam hatinya muncul rasa kagum dan keinginan untuk menjadikan Ekalaya sebagai muridnya, membantunya untuk mewujudkan hasrat besarnya untuk mereguk ilmu. Pikiran sang Resi pun melayang-layang membayangkan bahwa kelak Arjuna dan Ekalaya akan menjadi dua ksatria terhebat yang pernah ada yang akan membawa nama sang resi menjadi semakin tersohor.

Namun, berbeda dengan Drona, raut wajah Arjuna semakin memerah dan memanas, ketampanannya seolah memudar karena amarahnya memuncak. Ia merasa harga dirinya diinjak-injak karena telah kalah oleh seorang ksatria tanpa guru. Melihat reaksi Arjuna, Drona pun tersadar dari lamunannya, rasa-rasanya dirinya tak mungkin menyatukan Arjuna dan Bambang Ekalaya, ia harus memilih salah satu dari dua orang yang terbaik ini. Pemikirannya sebagai seorang ahli strategi pun meluncur kepada kenyataan bahwa Arjuna dan Ekalaya ini terlahir sebagai dua orang yang akan selalu berhadapan, jadi bila Ekalaya tidak dapat disatukan dengan Arjuna, besar kemungkinan kelak Ekalaya akan membantu pihak Kurawa dalam perang Bharatayuda. Drona pun merasa ngeri membayangkan Pandhawa kelak harus berhadapan dengan seorang ksatria super yang setara dengan Arjuna ini. Ia sadar, dirinya harus segera membuat keputusan!

“Jadi kau benar-benar ingin menjadi muridku? Tapi apakah kau mau menerima syaratku? Syaratku adalah muridku tidak boleh membantah apapun yang aku perintahkan atau aku katakan.”, ucap Drona.

“Hamba siap menerima syarat tersebut, Baginda Guru.”, balas Ekalaya dengan mantap.

Mendengar jawaban Ekalaya, Drona tersenyum tipis dan berkata “Baiklah, aku ingin mengetahui apa sebenarnya rahasia kekuatanmu? Tunjukkanlah kepadaku sekarang juga.”

Ekalaya pun terdiam, dia sebenarnya enggan untuk mengatakan apa rahasia dirinya, namun nasi telah menjadi bubur, ia kadung janji kepada sang guru. “Rahasia kekuatan hamba adalah sebuah cincin bernama Mustika Ampal, Baginda Guru. Ia tertanam di ibu jariku dan menyatu denganku.”, ujarnya sambil menunjukkan ibu jarinya.

Tak disangka, Drona pun mengeluarkan sebuah pisau dan memotong ibu jari Bambang Ekalaya. Pisau tersebut memotong habis ibu jari sang ksatria sekaligus mencabut nyawanya akibat lepasnya ajian Cincin Mustika Ampal. Dalam sekaratnya, Ekalaya berteriak-teriak dan menyumpahi Drona, “Baginda Guru, mengapa engkau tega melakukan ini kepadaku? Padahal aku benar-benar tulus ingin mengabdi kepadamu. Kalau engkau tidak berkenan untuk menjadi guruku di dunia ini, baiklah kelak arwahku akan menjemputmu di sebuah perang besar, dan engkau akan menemaniku berlatih di keabadian.”. Seusai mengucap sumpahnya, Ekalaya pun jatuh tersungkur di tanah. Habislah riwayat Ksatria mandiri ini di tangan orang yang selama hidupnya menjadi junjungannya, meskipun sebatas dalam bayangan.

Mendengar teriakan suaminya, Putri Anggraeni pun tergopoh-gopoh berlari menghampiri lokasi yang dituju suaminya tadi. Terkejutlah ia saat melihat suaminya tersungkur di depan seorang orang tua peyot dan seorang ksatria tampan. Dengan berurai air mata ia segera berlari memeluk tubuh suaminya yang telah terbujur kaku.

Sayang seribu sayang untuk Arjuna. Bukannya merasa simpati atas kematian musuh bebuyutannya, melihat kemolekan Putri Anggraeni yang notabene adalah istri Bambang Ekalaya, muncullah naluri kelelakiannya. Di depan gurunya, Arjuna yang tengah dibuai nafsu malah menggoda Putri Anggraeni untuk dijadikan istrinya. Jijik mendengar tawaran tersebut, Anggraeni pun langsung memaki-maki Arjuna dan Resi Drona, ia tidak habis pikir binatang macam apa orang yang berdiri di depannya ini. Merasa terhina dengan perkataan Anggraeni, Arjuna mencengkeram tangan Anggraeni dan membawanya pulang secara paksa, harga dirinya sebagai Lelananging Jagad membuatnya tega berbuat seperti itu.

Tiba-tiba, dari sakunya Anggraeni mengeluarkan sebuah pisau. Menusukkannya kepada Arjuna? Tidak. Ia memilih untuk bunuh diri menyusul suaminya ketimbang meladeni kebejatan Arjuna. Tragis!

Mulane cah, ojo podho sambat lan kondho urip e dhewe abot yen abot e uripmu durung koyo urip e Mas Bambang Ekalaya.

Bambang Ekalaya-Drona (sumber: Kliktedy.wordpress.com)

sumber:

http://maswino.wordpress.com/2008/04/07/kisah-tragis-bambang-ekalaya/

http://wayang.wordpress.com/2010/07/21/bambang-ekalaya-palgunadi/

http://kliktedy.wordpress.com/2012/01/04/bercermin-dari-sosok-bambang-ekalaya/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s