Kerja Keras Itu (Tetap) Indah

Ide dari tulisan ini terlahir setelah sebuah sore yang saya habiskan di sebuah Pasar di dekat rumah bersama Ibu saya. Kala mengamati beberapa pedagang yang memikul barang dagangannya yang cukup berat 🙂

Saat ini, negara kita ini tengah mengalami kemajuan pesat di bidang teknologi, laiknya yang terjadi di belahan dunia lainnya.
Laju modernisasi dengan kencangnya melapisi semua (nyaris) semua sisi masyarakat kita. Dengan kenyataan betapa beruntungnya kita dianugerahi banyak local wisdom yang mampu bertahan dengan warnanya sendiri, tentunya melalui bantuan tangan masyarakat.

Dan sebaliknya, modernisasi pun ternyata juga turut melapisi masyarakat, meski tentu tidak semuanya. Ya, modernisasi moral juga menghantam sebagian masyarakat Indonesia.

Berita baik atau buruk? Bisa jadi baik, bisa jadi buruk. Bisa baik karena nyatanya modernisasi di bidang komunikasi telah melahirkan banyak social movement yang luar biasa di segala jenjang usia. Berkat lancarnya informasi pula, integritas masyarakat pun naik dari yang tadinya dipecundangi penguasa lantas menjadi sosok-sosok penilai kredibilitas para tokoh negara.

Sisi buruknya? Modernisasi (terutama di bidang teknologi) yang tujuan utamanya memang mempermudah hidup manusia, disikapi secara pasif oleh sebagian masyarakat. Bagi mereka, kemudahan tersebut bukannya memberi manfaat malahan menjadi beban terselubung yang mendegradasi moral.

Kini, kemudahan seakan jadi alasan untuk mengeluh ketika bertemu dengan kesulitan. Menghapus identitas terpuji bangsa Indonesia yang mewarisi sifat pekerja-keras dari nenek moyangnya. Tidakkah kita malu apabila kelak Indonesia menjadi bangsa yang pengeluh?

Akhir kata, terpujilah mereka yang mampu menjinakkan modernisasi dan menyebar manfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain. Alangkah indahnya Indonesia kelak jika seisi bangsa ini mampu memadukan kemudahan dengan kerja keras 🙂

Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2½ sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita” 
– Ir. Soekarno

Setyo Tri Windrasmara
@setyotw

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s