Perubahan?

Malam itu, sekitar pukul 22.30 WIB di tengah perjalanan dari Kota Jogja menuju Kota Solo, saya terngiang sebuah pemikiran yang sempat menyelimuti relung otak saya sekitar beberapa minggu sebelumnya. Awalnya adalah ketika di kampus saya, Teknik Industri UGM, tengah diadakan sebuah acara pemilihan umum Ketua Himpunan Mahasiswa untuk periode terbaru. Seorang teman yang mengajukan dirinya menjadi Calon Kahim kebetulan memasang sebuah jargon yang cukup mencolok kornea mata saya, “Tidak Ada Perubahan Tanpa Perubahan”.

Bukan, di sini saya bukan hendak mengkritisi pilihan jargon teman saya yang akhirnya terpilih menjadi Kahim yang baru tersebut (Selamat, Saudara Galih Agung Permadi!). Namun saya tergelitik dengan menjamurnya penggunaan kata “Perubahan” di tengah dunia yang (katanya) sudah memasuki masa jenuh ini. Penggunaan kata “Perubahan” memang bisa ditemui di mana-mana, di skala kecil seperti organisasi mahasiswa, hingga di skala superbesar seperti ajang politik kenegaraan.

Yang terjadi adalah, adanya pengasosiasian kata “Perubahan” ini menjadi frase imajiner “Berubah menjadi lebih baik”, sehingga menimbulkan ameliorasi alias kenaikan nilai terhadap kata “Perubahan” itu sendiri. Padahal, KBBI mencatat bahwa kata “Perubahan”, terutama dalam aspek sosial ‘hanya’ memiliki arti: “Perubahan pada berbagai lembaga kemasyarakatan, yang mempengaruhi sistem sosial masyarakat, termasuk nilai-nilai, sikap, pola, perilaku di antara kelompok dalam masyarakat”. Lebih gamblangnya adalah, tidak disebutkan sama sekali bahwa terjadinya “Perubahan” akan selalu menuju ke arah yang lebih baik.

Jika mau menengok ke belakang, sejarah pun juga tidak mencatat bahwa “Perubahan” akan selalu menuju ke arah yang lebih baik. Saya mengambil contoh dari buku biografi Ali Sadikin, Gubernur tersohor DKI Jakarta yang berdinas pada periode 1966-1977, yang ditulis oleh Ramadhan K.H. Salah satu hal yang selalu saya ingat dari buku tersebut adalah Bang Ali berkata bahwa salah satu hal paling fundamental yang menyebabkan rusaknya iklim dan tata kota DKI Jakarta adalah karena Suksesornya tidak melanjutkan berjalannya blueprint rancangan tata kota DKI Jakarta yang telah dirancang selama masa pemerintahan Bang Ali. Akibat adanya “Perubahan” tersebut, terjadilah kegagalan sinkronisasi pembangunan yang akhirnya berujung pada kerusakan.

Oleh sebab itu, sedikit banyak sebaiknya kita mulai berhati-hati dalam menggunakan frase “Perubahan”, karena literally kata tersebut tidak selalu mencerminkan akan adanya tujuan akhir yang lebih baik. Bilamana diperlukan adanya penggunaan kata “Perubahan”, baiknya didahului dengan penelitian, pengamatan, ataupun survey komprehensif terhadap sistem yang ingin dirubah. Apakah betul “Perubahan” yang ingin dilakukan akan menuntun sistem ke arah yang lebih baik, ataukah hanya akan menjadi sebuah ke-muspro-an belaka. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s