Let It Be

Alkisah, di suatu malam yang tenang dan cerah, Sodron tengah dalam perjalanan untuk memenuhi janjinya kepada rekannya, Fulan, untuk bertemu di warung milik Abu, seorang pedagang wedhangan alias angkringan ala Solo. Tujuan mereka berdua sesungguhnya sederhana saja, hanya untuk mengisi waktu dengan mengobrolkan beragam hal bersama Abu, sang pedagang wedhangan langganan mereka.

Sesampai di sana, Sodron pun memarkirkan motor kesayangannya, untuk kemudian segera berjalan ke dalam tenda warung khas Kota Solo tersebut. Di dalam tenda tersebut, mengelilingi gerobak yang berisi hidangan-hidangan sederhana, duduk beberapa orang yang sudah mapan di sana, di antaranya tentu saja Abu dan Fulan yang telah datang menagih janji kedatangan Sodron lebih dulu.

Selepas mengambil posisi duduk yang enak, segera Sodron memesan segelas teh hangat kepada Abu dan ikut bergabung dalam obrolan mereka yang sudah lebih dulu di sana. Seperti biasa, laiknya orang Solo kebanyakan, mereka semua mengobrolkan beragam hal, dari masalah politik, falsafah hidup, hingga hal remeh-temeh seperti sepakbola, cukup ditemani oleh segelas minuman masing-masing dan batang rokok apabila berkenan.

Habis satu topik, ke topik lainnya. Habis satu topik, ke topik lainnya. Begitu berulang-ulang, bak sebuah loop yang berputar tanpa henti. Mereka yang berada di dalam tenda wedhangan milik Abu tersebut seolah tenggelam dengan bahagia dalam putaran tanpa henti sang loop. Hingga akhirnya Sodron, Fulan, dan Abu tiba di sebuah topik perbincangan menarik mengenai pekerjaan, sembari Sodron memesan segelas teh hangat lagi kepada Abu, yang langsung dihidangkan dalam hitungan detik dengan cekatan oleh sang pedagang.

Sodron: Lha kowe ki pengen kerjo opo Ful? Wis lulus lho.
(Lha kamu ini pengen kerja apa Ful? Sudah lulus lho.)

Abu: Dadi PNS wae, lagi ono bukaan anyar kae.
(Jadi PNS aja, baru ada pembukaan kloter baru itu.)

Fulan: Hahahaha.

Sodron: Opo dodol wedhangan wae? Nyaingi Mas Abu ki lho.
(Apa jualan angkringan aja? Saingan sama Mas Abu itu lho.)

Fulan: Lha yo gara-gara wedhangan kuwi, jasa Psikolog ning Solo sepi. Soale kabeh wong wis nduwe panggon cerito, padahal Psikolog kuwi tugas e nggawe wong cerito.
(Lha ya gara-gara angkringan itu, jasa Psikolog di Solo jadi sepi. Karena semua orang sudah punya tempat untuk bercerita, padahal tugasnya Psikolog itu bikin orang bercerita.)

Abu: Hahaha yo rapopo, buka o wedhangan wae. Malah kanggo kan ilmune?
(Hahaha ya nggak apa-apa, buka angkringan aja sana. Malah terpakai kan ilmunya?)

Sodron: Wah tapi wong dodol wedhangan ki menurutku sangar lho, Mas Abu.
(Wah tapi penjual angkringan itu menurutku hebat lho, Mas Abu.)

Fulan: Kok iso?
(Kok bisa?)

Sodron: Lha contone yo koyo Mas Abu iki, iso melayani pembicaraan wong-wong sing berbeda-beda latar belakang lho. Opo ra sangar? Padahal sak durunge dewe teko mau kan mesti yo ono wong sing bedo-bedo.
(Lha contohnya ya kaya Mas Abu ini, bisa melayani pembicaraan orang-orang yang berbeda-beda latar belakang lho. Apa nggak hebat? Padahal sebelum kita datang tadi kan pasti juga ada orang yang berbeda-beda.)

Abu: Wah, kowe wong kedua sing ngomong koyo ngono kuwi setelah Pakdheku.
(Wah, kamu orang kedua yang ngomong seperti itu setelah Pakdhe saya)

See? No need to be too amazed with anyone. Whoever you are, whatever your job, if you do your job hearty, you can always be very happy. Never underestimate anyone, there will be an answer, let it be.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s