Dokumentasi Yang Manusiawi, Apa Itu?

Tanggal 14 Maret kemarin, ceritanya Akademi Berbagi Yogyakarta mengadakan kelas fotografi dengan tema “Dokumentasi Yang Manusiawi”. Diampu oleh Roni Azhar, Akberjogja mengadakan kelas di halaman depan Benteng Vastenburg Yogyakarta (Benteng yang di selatan Malioboro itu lho, di KM 0. Kalau mau masuk bayarnya cuma 2 ribu saja lho, bagus pula).

Roni Azhar, penduduk Riau yang dapat dicolek di twitter dengan nama akun @9ballstraight ini adalah seorang fotografer profesional yang cukup senior di bidangnya. Dia adalah pemilik Empistudio, sebuah studio fotografi yang lokasinya ada di Jakarta dan Pekanbaru. Siapa sih Mas Roni ini hingga Akberjogja bisa ketemu dia? Jadi, Mas Roni ini adalah fotografer dari acara #LLD2014 Akademi Berbagi, dan Beliaunya kebetulan ikut pulang dan menginap di Jogja selama sekitar seminggu. Selain itu, Mas Roni juga merupakan seorang penggiat komunitas dan volunteer Akademi Berbagi Pekanbaru.

Sejak awal, Mas Roni sudah mewanti-wanti bahwa ia tidak akan mengajar mengenai masalah teknis, karena Ia yakin banyak fotografer yang lebih mumpuni untuk bicara teknik dibanding dirinya. Nah, di kelas ini Mas Roni pun berbagi pengetahuan mengenai esensi utama dari fotografi, yaitu pendokumentasian momen yang manusiawi.

image

Mas Roni mengungkapkan, saat ini terjadi banyak orang yang mempunyai bias cara pandang dalam menyikapi dunia fotografi. Fotografi dipandang hanya sebagai hobi yang membutuhkan gadget dan kamera mewah, dengan harga yang selangit. Bias cara pandang ini mengakibatkan sebagian orang merasa malu menyebut dirinya sebagai fotografer, hanya karena tidak memiliki gadget yang fotografer-esque! 

Selain itu, muncul pula kesalahpahaman mengenai siapa itu fotografer amatir dan siapa itu fotografer profesional di dalam dunia fotografi. Menurut Mas Roni, bila dicek di kamus, kata ‘amatir’ berasal dari kata ’amateur’ dalam bahasa prancis, yang bila diterjemahkan ke bahasa Inggris artinya adalah ‘lover of’, alias pencinta. Sehingga, bisa diambil kesimpulan bahwa fotografer amatir adalah mereka yang menyukai fotografi, menyukai pendokumentasian momen. Sementara, fotografer profesional adalah mereka yang meraih rejeki dari dunia fotografi.

Lalu, apa fungsi dari mendokumentasikan momen? Foto berfungsi sebagai keyword bagi otak kita, sebagaimana ketika kita mencari data di search engine, sehingga otak kita mudah untuk mengingat situasi, momen, dan cerita di ruang waktu yang terpotret di foto tersebut.

Lantas apa itu dokumentasi yang manusiawi? Sebuah hasil dokumentasi yang manusiawi adalah ketika sang dokumentator mengenali obyek yang dia foto, mengerti cerita yang terkandung di dalamnya, dan memahami apa yang ingin dia sampaikan dalam foto tersebut. Tanpa hati dan pemahaman mengenai dokumentasi yang manusiawi, seorang dokumentator dapat menjadi biang kerok masalah dengan sebuah foto atau dokumentasi yang dia bangun. Dokumentasi dapat menjadi alat propaganda yang berbahaya. Bagaimana tidak? Cukup dengan merubah layout atau angle, dokumentator bisa mengubah cerita yang ingin disampaikan dan mengubah opini publik dalam menilai momen tersebut. 

Jadi, sebagaimana dikatakan oleh Mas Roni. Dengan influence yang cukup besar seperti itu, dokumentasi adalah soal pilihan. Kita semua, sebagai seorang dokumentator momen dapat memilih apakah ingin menjadi seorang dokumentator yang jujur dan manusiawi, atau menjadi seorang dokumentator yang tidak punya hati.

Dengan sejumlah perubahan, tulisan ini dipublikasikan sebagai report di blog milik akberjogja. Artikel tersebut bisa dilihat di sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s