#NulisJuga Literacy Journey: Arswendo Atmowiloto

“Mohon maaf, Mas. Jaketnya bisa dititipkan di loket penitipan”

Kalimat khas pusat perbelanjaan tersebut diujarkan dengan merdu oleh petugas penjaga pintu, atau lebih tepatnya petugas penyambut pelanggan di pintu masuk sebuah toko buku ternama di bilangan kota Solo. Mendengar kalimat tersebut, saya pun tersadar kalau di kulit saya masih menempel sebuah jaket buluk yang nampak sangat sering digunakan oleh pemiliknya. Bergegas saya pun meluncur ke loket penitipan untuk menukarkan jaket kesayangan saya dengan sebuah ‘nomor’, untuk sementara. Setelah mendapatkan nomor penitipan jaket, saya pun berjalan dengan santai menaiki tangga menuju ke lantai dua, di toko buku ini deretan buku-buku berkualitas memang dijajakan di lantai dua, sementara lantai satu sendiri difungsikan sebagai pusat perbelanjaan alat tulis dan kebutuhan-kebutuhan tersier yang siap sedia menggoda para pelanggan yang membawa uang lebih di sakunya.

Tiba di lantai dua, saya pun diam sejenak mengamati, rak buku mana yang ingin saya cek terlebih dahulu. Pilihan pun jatuh ke rak yang menyajikan deretan buku-buku terpopuler saat ini, yah otak saya toh tetap punya gaya khas masyarakat Indonesia, selalu awas dengan segala yang bertitel populer. Satu per satu buku saya tilik, mulai dari rak produk-produk populer yang berada di pucuk kiri hukum long tail, hingga rak-rak lain di sekitarnya. Ruh liar saya pun terbius dalam kegiatan suci yang kesakralannya hanya sedikit di bawah pencarian kitab suci oleh Biksu Tong dan keempat muridnya yang termahsyur itu. Sibuk, sibuk, kedua telapak tangan saya yang berukuran persentil bawah ini mengangkat beberapa judul buku yang dijajakan, menyimak cover berdesain menarik dari setiap judul, membaliknya guna membaca resensi yang ada di buritan, dan tentu saja mengamati harga yang tertera di barcode pojok belakang kanan bawah yang terkenal itu. Maklum, saya masih mahasiswa yang membeli buku dari sisihan uang saku atau rejeki nomplok pemberian Orang Tua saja.

Tanpa terasa, sudah tiga puluh menit saya berada di toko buku tersebut. Belum ada satu pun buku yang ingin saya bawa pulang ke rumah. Pikiran saya pun sudah melayang ke rumah, mungkin sebaiknya saya menuju ke rumah, menonton televisi, dan menyimpan uang yang saya bawa untuk keperluan lainnya saja. Saya pun mulai melangkah ke arah tangga, satu-satunya jalan menuju ke lantai satu. Melewati rak bertuliskan ‘Novel Indonesia’, mata saya pun melirik sambil bergumam heran melihat deretan karya novelis lulusan Twitter yang berjejer rapi. Heran, ya, saya pun makin heran hingga berhenti melangkah. Terhimpit karya-karya para anak muda melek teknologi tersebut, terselip sebuah nama yang terdengar akrab di telinga, tokoh lama sarat kontroversi yang hanya pernah saya baca profilnya di sebuah ensiklopedia swadaya di dunia maya. Namanya, Arswendo Atmowiloto.


Perkenalan dengan karya Beliau hadir tepat sekitar setahun lalu. Saya pulang ke rumah dengan menenteng dua judul buku karangannya yang saya temukan di toko buku tersebut, Canthing dan Dua Ibu. Setahun berlalu, saya kini telah melahap beragam karya agungnya, dari Canthing yang bernafaskan tradisi Jawa kuno, Dua Ibu yang bertemakan peran besar para Ibu dalam keluarga melalui sudut yang manis, dua judul populer yang diangkat ke layar kaca pada medio 90-an, Imung dan Keluarga Cemara yang tersohor, hingga mahakarya berjudul Senopati Pamungkas yang bersama Dua Ibu saya golongkan sebagai salah satu harta terbaik dalam sejarah literasi bangsa Indonesia.

Jatuh hati, jelas, bila detik ini ada yang bertanya kepada saya tentang siapa penulis terbaik di Indonesia, saya tak ragu akan melawan arus dan menjawab Arswendo Atmowiloto-lah orangnya, tak peduli ratusan ribu orang berkata seharusnya saya memilih Pramoedya atau mungkin Buya Hamka. Imajinatif dan persuasif, karyanya membawa pembaca ke sebuah dunia imajiner yang sederhana, yang dibangun dari nukilan peristiwa terkait yang membumi, yang jamak terjadi, namun seringkali terlewatkan ketika kita mencoba mengangkat topik yang sama. Dua Ibu contoh terbaik, mengangkat kisah pengorbanan seorang Ibu yang berjuang menyambung hidup anak-anaknya, judul ini memotret beragam kebiasaan khas keluarga kelas menengah ke bawah di Indonesia yang akan membuat pembacanya tercekat dan termenung memikirkannya, bahkan ketika mereka tidak pernah menemui situasi tersebut sebelumnya.

Di atas itu semua, yang teristimewa dari Beliau adalah gaya penulisan khasnya. Tulisannya mengalir cepat, namun tetap detil dan memberi kesempatan untuk bernafas. Tidak ada istilah-istilah rumit berjejalan seperti karya Andrea Hirata, tidak ada puluhan footnote dan kalimat tegas nan garang laiknya karya Pramoedya, tidak ada pula beragam kalimat cinta berputar-putar yang terasa manis bila dituliskan di social media, semua serba sederhana, sastra yang teramat sederhana.

Tidak banyak kutipan kalimat indah dari seorang Arswendo Atmowiloto yang bakal kita temui di media sosial. Tidak banyak kalimatnya yang terasa mewah untuk dinikmati dalam potongan saja. Tidak banyak kalimatnya yang dianggap pembaca dapat meninggikan citra sosial ketika dipajang dalam pigura aphosthrope ganda. Karya-karyanya sangatlah sederhana, terlalu sederhana untuk dinikmati dalam bentuk potongan kalimat saja. Ia harus dinikmati secara utuh, secara luas, barulah dapat dirasakan getar maknanya.

Kalaupun ada satu nukilan karya pria kelahiran Solo tersebut yang terasa manis ketika dipasang di antara aphosthrope ganda, mungkin kalimat di bawah ini jawabannya.

“Bagian terberat dari perpisahan bukanlah ketika saat melambaikan tangan. Bagian terberat adalah hari-hari sesudahnya”
– Arswendo Atmowiloto

Advertisements

One thought on “#NulisJuga Literacy Journey: Arswendo Atmowiloto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s