#NulisJuga Perspektif: Happiness is Improvement

Mana yang lebih mudah bagi kita, menjawab pertanyaan mengenai apakah kita sedang berbahagia, ataukah menjawab pertanyaan mengenai apakah arti bahagia itu sendiri?

Apakah Anda sedang berbahagia? Saya yakin lima detik sudah lebih cukup bagi kita untuk memikirkan jawabannya. Jawaban dari pertanyaan tersebut, secara general, memang hanya dua: ya dan tidak. Otak kita nampaknya memang didesain cukup canggih agar kita tidak memerlukan waktu terlalu banyak untuk sekedar berintrospeksi dan menengok ke dalam relung hati mengenai apa yang tengah kita rasakan kini.

Kini coba kita melompat ke pertanyaan kedua. Bagi Anda, apakah arti dari kebahagiaan itu sendiri? Sepertinya kita bisa bersepakat, lima detik bukanlah waktu yang cukup untuk menjawabnya.


Pada suatu masa ketika seekor burung biru belum merasa kelelahan mengibarkan panji bertuliskan brand Twitter, sempat lalu lalang sebuah tagar unik yang memberikan sebuah nafas baru bagi kebahagiaan, setidaknya bagi orang Indonesia, tagar tersebut adalah #BahagiaItuSederhana. Tagar tersebut konon dipopulerkan oleh Farid Stevy, seorang vokalis dari salah satu band lokal pujaan kota Yogyakarta, Fstvlst. Dalam salah satu tulisannya yang pernah saya baca di blog-nya, Farid menjabarkan kebahagiaan dalam sebuah cerita tentang bagaimana ia bangun pagi, menjalani pagi yang menyenangkan dengan semangkuk soto dan lauk-pauk yang ia beli bersama rekan-rekannya di bilangan Alun-Alun kota Yogyakarta, dan menemukan bahwa sesungguhnya bahagia itu amatlah sederhana. Salut kepada Beliau, saya pun akan mengangguk setuju bila ada yang berkata bahwa, “Bahagia itu Sederhana”.

Tapi, frase yang terkandung di dalam tagar tersebut tidak berada dalam konteks definitif. Ia berada dalam ranah ‘rasa’, ranah kualitas dari kebahagiaan itu sendiri. Ketika bahagia itu sederhana, tidak berarti definisi dari bahagia itu sederhana, bukan? Seorang Farid Stevy merasa bahagia ketika menemukan dirinya dapat melahap semangkuk soto yang lezat di pagi hari yang cerah, begitu pula saya. Tapi, bisa jadi kebahagiaan yang kami rasakan dalam situasi tersebut tidak akan dirasakan oleh, taruhlah seorang Kim Kardashian, ketika ia melahap semangkuk soto yang lezat di pagi hari. Well, she’s probably craving for something more than that.


Sekitar enam bulan yang lalu, saya membaca sebuah buku berjudul The Happiness Project karangan Gretchen Rubin, seorang penulis perempuan yang beberapa karyanya berhasil menembus deretan best-seller versi New York Times. Di dalam buku yang saya pinjam dari seorang kerabat (Maaf Mas Imam, belum sempet saya balikin) tersebut, terdapat sebuah chapter yang menurut saya sangat menarik, chapter tersebut membahas mengenai apakah definisi yang paling tepat dari kebahagiaan. Singkat cerita, Gretchen Rubin melakukan sebuah riset literasi mengenai arti dari kebahagiaan, dan perspektif yang ia temukan sangatlah menakjubkan.

“Happiness is improvement.”

Perspektif di atas, menurut Gretchen Rubin, adalah definisi yang paling dekat dengan arti sesungguhnya dari kebahagiaan. Happiness is improvement, atau dalam bahasa Indonesia: kebahagiaan adalah peningkatan.

Dalam situasi apapun, kita akan merasa bahagia ketika menemukan bahwa apapun yang kita usahakan, atau kita harapkan, mengalami peningkatan, baik segi kualitas maupun kuantitas. Kita bahagia ketika mendapati indeks prestasi kita meningkat dari semester sebelumnya. Kita bahagia ketika berkenalan dengan orang baru yang ramah, yang berarti jumlah kerabat ramah kita meningkat. Kita pun akan bahagia ketika mendapati bahwa gaji kita bulan depan mengalami peningkatan 20%, bahkan saat kita bersikeras bahwa uang tidak dapat membeli kebahagiaan.


Masing-masing dari kita boleh setuju dengan pandangan di atas ataupun tidak. Anda bisa memiliki definisi tersendiri mengenai kebahagiaan, sebagaimana pula KBBI yang memiliki perspektifnya sendiri, tetap saja kita bisa bersepakat untuk tidak sepakat, apalagi hanya dalam masalah sepele seperti ini. Namun, setidaknya kini kita telah memiliki sebuah perspektif yang cukup singkat guna menjawab pertanyaan kedua. Apakah arti kebahagiaan itu sendiri? Kebahagiaan, adalah peningkatan.

*Tulisan ini ditulis di sela-sela waktu belajar menjelang ujian Manajemen Proyek esok hari, guna mengejar peningkatan nilai Indeks Prestasi Kumulatif*

Advertisements

4 thoughts on “#NulisJuga Perspektif: Happiness is Improvement

  1. Halo, aku disini hanya bermaksud berbagi pendapat, bukan membantah atau menyalahkan tulisan anda.

    bolehkah aku ngomong jika kebahagiaan itu sudut pandang. bagaimana kita harus bersikap atas sebuah peristiwa. bahkan dalam musibahpun kita bisa berbahagia dalam mengambil hikmah. bahaiga itu syukur.

    Salam.

    • Halo Mas Turas, tentu saja boleh.

      Di sini saya hanya ingin menawarkan sebuah perspektif mengenai definisi yang mungkin paling dekat dengan kebahagiaan. Sesuatu yang dapat merangkum beragam definisi yang ada, yang dapat diyakini oleh orang banyak.
      Konsep ‘improvement’ saya lihat memanglah sebuah konsep yang paling dekat dengan kebahagiaan. Benar bahwa kebahagiaan bergantung pada sudut pandang, sehingga ketika mendapat musibah kita tetap dapat merasa bahagia, tetapi bukankah kita tak bisa menyangkal bahwa hanya segelintir orang yang mampu melakukannya? (case Kim Kardashian dan semangkuk soto)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s