#NulisJuga Dua Guruku di Persimpangan

“Perkenalkan anak-anak, nama saya adalah Pak Agus”, kalimat tersebut meluncur dengan tegas dari seorang guru olahraga berpostur besar dan tegap.

Hari itu adalah pertemuan pertama dalam mata pelajaran Olahraga. Ya, peristiwa ini terjadi saat saya masih duduk di kelas satu SMA. Saat itu, saya dan rekan-rekan sekelas berbaris berjajar di halaman sekolah, mendengarkan perkenalan dan pengarahan dari Pak Agus, guru pengampu mata pelajaran Olahraga kami.

Beliau memperkenalkan dirinya sebagai sosok yang sangat disiplin dan sistematis, sosok yang ingin memastikan bahwa segala yang Ia perbuat berada pada koridor yang tepat. Dalam kapasitasnya sebagai seorang Guru, sudah jelas, Ia menginginkan kami untuk mengikuti jejaknya. Oleh sebab itu, Beliau, dengan setengah mengancam, mengilustrasikan sikap disiplinnya tersebut melalui sebuah kisah yang menutup perkenalan kami saat itu.

“Anak-anak, beberapa tahun lalu, ketika sedang mengendarai sepeda motor saya terhadang lampu merah ketika sampai di sebuah perempatan. Di perempatan tersebut, terdapat beberapa pengendara yang berada di barisan paling depan hingga melewati garis batas yang ada. Begitu lampu berubah warna dari merah ke hijau, para pengendara itu langsung tancap gas tak sabaran. Apes, dari arah lain ternyata ada mobil yang nyelonong begitu saja karena mengejar lampu hijau, sehingga terjadilah tabrakan antara mobil tersebut dengan para pengendara yang tadi berada di baris paling depan.

Jadi, besok-besok bila saya berada di perempatan dan melihat kalian ada di baris paling depan. Saya akan turun dari motor, lalu saya pukul kalian di tempat.”


Namanya Pak Rusbandi, atau biasa dipanggil Pak Bandi. Beliau adalah seorang guru Matematika yang aktif sebagai pembina ekstrakurikuler Pramuka di SMA saya. Beliau adalah sosok yang cukup akrab dan ramah, terkenal sebagai guru yang tidak canggung menempatkan dirinya sejajar dengan para muridnya. Ketika duduk di kelas satu, Beliau menjadi pengampu mata pelajaran Matematika di kelas saya hingga pertengahan semester. Dengan kata lain, Beliau adalah guru Matematika pertama saya semasa SMA.

Pak Bandi memiliki sebuah kebiasaan yang cukup menancap di kenangan saya. Setiap mengajar, Beliau selalu menulis catatan di papan tulis kapur hingga berderet-deret, tak jarang sampai Ia harus menghapusnya berkali-kali karena papan tulis tersebut kepenuhan oleh tulisan-tulisannya. Kombinasi antara rumus-rumus aritmatika dengan luapan jumlah catatan ini, yang meskipun sangat bermanfaat, rasanya cukup kontributif terhadap kebencian para murid terhadap mata pelajaran yang satu ini. Meskipun begitu, Pak Bandi tetap tak ambil pusing, sing penting cah-cah do mudeng, mungkin begitu pikir Beliau. Kemudian, sembari menunggu anak-anak menyalin catatannya, Pak Bandi biasa duduk di meja guru sambil kepet-kepet (kipasan). Memang Pak Bandi ini cukup tambun, ditambah dengan kegiatan menulis bejibun catatan itu, tak heran bila Beliau berkeringat cukup banyak setiap mengajar di kelas yang kala itu belum dipasangi AC. Sambil kepet-kepet, Pak Bandi akan mulai bercerita mengenai pengalaman dan wejangan-wejangan menarik yang berasal dari pahit-manis kehidupannya.

Pernah suatu kali, Beliau mengakui bahwa Ia belajar menjadi sosok yang oportunis. Hal ini berdasar dari pengalaman ketika Ia pertama kali belajar menyusun buku LKS (Lembar Kerja Siswa). Saat itu, Beliau yang masih sangat muda mencoba menyusun sebuah naskah LKS yang menurut Beliau kualitas isinya sangat bagus untuk ukuran masa tersebut. Melihat kualitas LKS buatan Pak Bandi tersebut, rekannya pun merekomendasikannya untuk mencoba menerbitkannya di salah satu penerbit yang cukup terkemuka. Pak Bandi pun manut, Beliau menawarkan naskahnya ke penerbit, dan naskah tersebut disambut dengan antusias langsung oleh pemilik penerbitnya. Transaksi langsung terjadi hari itu juga, hak kepemilikan Naskah tersebut dibeli oleh penerbit dari Pak Bandi seharga 500 ribu rupiah, nilai yang cukup besar saat itu. Pak Bandi, yang baru pertama kali berurusan dengan penerbit, pulang dengan riang gembira setelah berhasil mendapatkan apa yang menurut dia rejeki nomplok. Barulah beberapa tahun kemudian Ia mengetahui, penerbit tersebut mendapat untung ratusan juta rupiah karena naskah buatannya. Pak Bandi? Tetap dengan uang 500 ribu rupiahnya dan ucapan terima kasih saja.

Karena pengalaman buruk tersebut, Pak Bandi pun menuntut kami menjadi sosok yang oportunis, agar kami tidak melepaskan kesempatan hanya karena ketidaktahuan. Ia menekankan agar kami sedikit lebih egois. Dari menghadapi peristiwa genting (Suatu ketika Pak Bandi bercerita, ketika menaiki kapal, ia merasa ada yang tidak beres. Ia pun mengambil tempat di dekat pelampung yang tersedia. Benar saja, kapal tersebut kemudian karam, Pak Bandi segera mengambil pelampung dan.. Selamat), hingga menghadapi peristiwa sehari-hari.

Cah, dulu saya pernah baca di koran. Ada peristiwa sebuah truk yang remnya blong dan tidak bisa berhenti. Truk itu mengarah ke perempatan yang saat itu sedang ramai-ramainya. Apesnya, saat itu lampu lalu lintas dari arah truk itu sedang berwarna merah, semua berhenti. Tak bisa tidak, truk tersebut menabrak kerumunan kendaraan yang sedang berhenti, banyak pengendara motor dan mobil yang meninggal karena diseruduk truk dari belakang dan hanya beberapa saja yang selamat dalam peristiwa itu. Siapa? Yang berada di depan, karena mereka bisa lari ke depan sehingga tidak tertabrak.

Sejak itu, setiap berada di perempatan, saya selalu mengambil posisi paling depan cah. Jadi kalau ada apa-apa, saya bisa lari duluan.”


Kedua cerita tersebut datang dari dua guru SMA saya. Kedua cerita yang saling bertolak belakang. Bisa dibayangkan bila Pak Agus dan Pak Rusbandi berada di perempatan yang sama? Apakah Pak Agus akan turun dari motor lalu menempeleng Pak Rusbandi juga? 😀

Gurumu dan guruku tak selalu benar. Konklusi singkat ini dapat kita ambil dari kedua cerita di atas. Guru tak lepas dari kesalahan, karena memang mereka manusia. Yang perlu kita lakukan sebagai murid adalah meneladani sisi baik mereka, dan menerapkannya sesuai konteks yang ada, sesuai akal sehat kita, sesuai karakter yang kita punya.

Sepertinya, untaian kalimat dari Soe Hok Gie ini dapat menyimpulkannya.

Copyright: Aminlandak.tumblr.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s